Novel ini berjudul Bunda, Jadikan Aku Anakmu. Sebuah novel islami ciptaaanku. Selamat membaca ^_^
Burung berkicau tanda pagi telah tiba. Suara ayam berkokok sahut menyahut menambah kekhusyuan pagi ini. Angin berhembus pada dedaunan yang berembun. Basah membasahi bumi dengan kesegarannya. Bunyi gemerisik air di sungai pun menambah warna pagi yang sungguh memikat hati.
Bogor, Kota nan hijau itu telah menyambut pagi. Sinar sang mentari kini terlihat menerangi di ujung timur. Aktivitas pagi di kota itu telah terlihat. Di taman kota, mulai disinggahi beberapa orang untuk jogging. Sekedar untuk berolahraga tentunya. Sama halnya dengan sepasang suami istri, Arie dan Hanna. Mereka berdua berjalan-jalan mengelilingi taman kota itu sambil menarik nafas dan mengeluarkannya.
“Mas, bentar lagi kita akan punya anak!” kata Hanna
Arie tersenyum sambil melihat perut istrinya yang kini hamil genap sembilan bulan itu. Senyumnya penuh dengan kasih sayang dan cinta kepada istrinya. Memang Istrinya itu ibarat bidadari penuh dengan kecantikan batin baginya. Akhlaknya Shalehah. Penuh dengan harapan hidup.
“Mas, pengen dipanggil apa sama anak kita?” tanya Hanna
“Mas, pengen dipanggil Ayah!” jawabnya.
“Klo, Dinda pengen dipanggil apa?” tanya kembali.
“Dinda pengen dipanggil Bunda, Yah!” Senyuman Hanna mewarnai kata-katanya. Arie mendekati istrinya dan mencium perutnya.
“Ayah dan Bunda” jawab Arie sambil tertawa.
Arie Ahmad Yasin. Pria berumur sekitar 30an itu kini berharap akan kedatangan buah hatinya. Sudah lama ia menginginkan anak pertamanya itu. 4 tahun pernikahan telah mereka berdua lewati. Sama seperti dia, Hanna Salsabila Jamilah, istrinya juga mengharap demikian.
“Calon anak kita perempuan, Ya Nda?” tanya Arie
“Menurut hasil USG kemarin di tempat Dinda, memang begitu Yah!” jawab Hanna.
“Pasti cantik kayak Bundanya!” sahut Arie.
“Mas ini, bisaa aja! Dan Insya Allah mirip juga Ayahnya” sahut Hanna lagi.
“hahaha..” mereka berdua tertawa.
Mereka berdua merasakan sekali bagaimana kebahagiaan saat menjelang kehadiran anggota baru keluarganya itu.
“Oh ya, ingat gak janji dulu saat kita menikah?” tanya Arie kepada istrinya.
Dahi Hanna berkerut. Pikirannya menjelajah beberapa tahun yang lalu. Saking banyaknya kejadian yang mereka lalui bersama. Hanna semakin bingung dan menyimpan satu pertanyaan.
“Janji yang mana, Mas?” tanyanya.
“itu, anak kita klo perempuan mau dikasih nama apa gitu?”
Hanna memutar fikirannya lagi. Ada satu nama yang pernah ia janjikan bersama dengan suaminya itu.
“Oh ya! Aku tau mas!”
“sst, jawab ya 1.. 2.. 3..” sambil menghitung dengan jarinya.
“Nur Jannah!” mereka berdua kompak mengeluarkan nama itu.
Nama itu mengingatkan mereka akan sebuah tempat yang indah dan menenangkan. Surga. Mereka berdua ingin sekali anak mereka membawakan cahaya surga untuknya. Persis ketika hari pernikahan mereka 4 tahun silam, pidato Pak Ustadz Salam “pernikahan itu harus membawa ke surga! Cahayanya berkilau”
Kenangan mereka berdua kini telah hampir menemui tujuannya yaitu kelahiran anak sulung mereka. Usia memang terkadang menyuruh kita untuk segera berbagi kehidupan. Anak adalah sebuah harapan hidup. Seolah tidak ada lagi yang mereka inginkan selain di dunia ini selain itu.
“Ayah, Bunda! Lucu ya nama itu. bagus.. Hehe..” Arie menggandeng tangan istrinya sambil jalan-jalan menyelusuri taman kota. Taman kota memang sebuah pilihan bagi mereka yang ingin melepaskan penat setelah semingguan bekerja. Hari itu adalah hari libur. Hari Ahad tanggal 5 Maret 1995. Pukul setengah tujuh pagi tepatnya.
Mereka berdua berjalan-jalan sambil melihat bunga. Ada banyak bunga ditempat itu. mulai dari mawar, bunga sepatu, dandelion, sampai bunga matahari. Mereka berdua tak sendiri. Banyak pengunjung lain yang sedang melakukan aktivitas. Ada yang berlari. Ada juga yang makan surabi di pinggir jalan. Ada yang asyik mengobrol. Hingga ada juga yang bermain oper-operan bola.
Tak terasa waktu telah semakin siang. Arie dan Hanna merasa berkeringat. Cukup banyak memang keringat mereka. Hingga akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengakhiri kegiatan di pagi itu. Mereka berdua menuju mobil sedan miliknya. Arie memasukkan kunci mobil itu dan melaju menuju rumahnya. Tak terlalu jauh, hanya sekitar 15 menit dari taman itu.
Suara klakson mobil terdengar. Ujang bergegas menuju pagar. Pagar rumah itu lalu dibuka olehnya. Dia sebenarnya adalah supir pribadi Arie. Namun, pagi itu Arie sengaja pergi hanya untuk berdua dengan istrinya.
“Wilujeung Enjing, Bu Pak! Assalamualaikum...” sapa Ujang kepada mereka berdua. Supir itu berasal dari Sukabumi. Rumahnya di desa. Dia sangat sopan sekali kepada Arie dan Hanna. Logatnya asli sunda itu kental di mulutnya.
“Wa’alaikum Salam” jawab mereka berdua. Sambil tersenyum, Ujang membukakan pintu mobil untuk Arie dan juga untuk Hanna.
“Dinda, kita makan dulu yuk! Tadi pagi, Mas udah masakin buat Dinda!” Arie memang hobi kuliner. Tapi, sebenarnya dia tidak terlalu pandai memasak.
“Jang, udah makan?” tanya Arie kepada Ujang.
“Parantos pak tadi, di payun!” sambil menunjuk ke depan rumah. Ada warung kecil di dekat. Warung itu mejual nasi uduk plus gorengan yang memang enak dan disukai Ujang.
Arie dan Hanna menuju ke meja makan dalam rumah. Arie mengambilkan nasi dari rice cooker dan menaruhnya ke piring istrinya.
“Mas, biar Dinda aja!” Hanna tiba-tiba menyela aktivitas suaminya.
“Biar atuh neng.. ! Mas, yang kali ini service Dinda. Biasanya kan Dinda selalu ambilin nasi buat mas. Hehe..” Arie menjawab balik.
Arie dan Hanna kemudian saling memberikan lauk. Romantis sekali pagi itu. Setelah itu, mereka berdoa kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan. Arie memimpin doa dan merekapun memulai untuk makan sarapan. Namun, baru beberapa suapan masuk ke mulut Hanna. Ada kejadian yang tak diduga.
“Mas, aku ko mual ya mas!” kata Hanna sambil memegang perutnya.
“kenapa, Dinda sayang? Makanannya gak enak ya? Atau jangan-jangan?” Arie penuh dengan penasaran.
Hanna memegang perutnya, semakin lama rasa mulas dari perutnya itu semakin tajam.
“Mas, ana..k ki..ta kayak..nya mau keluar!” Hanna berkata tersengal-sengal. Muka Hanna mendadak pucat.
Arie kebingungan. Dia bingung antara apa yang harus dilakukan terlebih dahulu. Dia lalu berteriak.
“Ujangg,, Inahhh... kemari! Bantu Ibu..” Arie memanggil kedua pekerjanya itu. Inah adalah pembantu di rumah Arie.
Ujang dengan sigap datang ke tempat sarapan Arie dan Hanna. Sedangkan Bi Inah sudah datang duluan sambil memegang Hanna.
“Ujang, kamu siapkan mobil.. kita langsung ke rumah sakit Permata Bunda!” kata Arie dengan sedikit nada tinggi.
“Muhun Pak.. Siappp!” Ujang mengucapkan itu sembari berlari menuju garasi mobil.
“Sabar Dinda, jangan keluar disini!” kata Arie sambil menatap Hanna dan memegang pundaknya.
“Bi Inah,, Tolong bawakan Baju dan barang Ibu di Kamar atas!” Arie menatap Bi Inah agar segera melakukan itu.
“I.. ya pak!” Bi Inah lalu mengambil tas yang ada di kamar Arie. Tas itu sudah dipersiapkan memang sebelumnya oleh Arie dan Hanna.
Tak berapa lama Ujang kembali datang.
“Pak.. Mobil sudah siap...!!” kata Ujang
“oke.. nuhun Jang,,” sambut Arie. Arie melihat Istrinya lagi.
“Dinda, kita berangkat sekarang! Tolong Bi Inah sama Ujang bantu Ibu”
Mereka kemudian bergegas membantu Hanna berjalan dan menuju mobil. Ujang kemudian membukakan pintu mobil untuk Hanna. Arie membantu Hanna masuk ke dalam dan duduk disampingnya. Bi Inah masuk lagi ke dalam dan membawa tas perlengkapan Hanna dan memasukan ke bagasi mobil.
“Ujang ayoo berangkat!” suruh Arie.
Deru mobil berbunyi. Mobilpun berjalan dan menuju keluar rumah. Bi Inah tidak ikut mengantarkan mereka. Dia menjaga rumah disuruh oleh Arie.
Sekitar 20 menit dari Rumah, akhirnya merekapun tiba di rumah sakit Permata Bunda Bogor.
“Suster, tolong bantu Istri saya. Dia tampaknya ingin melahirkan!” Perawat itupun membantu Hanna keluar dari mobil dan memapahnya menuju tempat tidur berjalan itu. Hanna kemudian dibawa ke ruang bersalin.
Ibu dokter kandungan datang dan masuk ke dalam ruangan itu. Dia adalah Bu Anita, rekan kerja Hanna. Hanna bekerja sebagai perawat di rumah sakit itu. Sudah hampir 5 tahun. Tanpa disuruh, Arie ikut masuk ke dalam dan berdiri disamping istrinya.
“mbak, sekarang berbaring dan tarik nafas yang dalam” kata Dokter Anita.
“tenang ya,, Sabar ya.. Dinda!” Arie menyemangati istrinya.
Proses melahirkanpun dimulai. Hanna mengejan dengan keras sambil terengah-engah nafasnya. Dokter Anita dibantu perawat lainnya membantu proses kelahiran Hanna. Kisruh sekali diruangan itu. Penuh dengan suara-suara jantung yang berdebar. Terutama Arie disamping Istrinya. Dia berharap sekali agar tidak terjadi apa-apa dengan istrinya itu. Mulutnya bergumam dan berdoa kepada Allah.
Sekitar 30 menit kemudian, puncaknya tiba. Hanna mengejan dengan keras.
“Ya Allah... Uggggggggg!” teriak Hanna sambil bercucuran keringat.
Tak berapa lama setelah itu. Bayi itu lahir ke dunia. Arie tersenyum kepada istrinya. Bayi itu lahir dengan selamat. Dia kemudian mendekati anaknya itu dan mengumandangkan adzan serta iqamah. Bayi itu menangis. Hanna juga ikut keluar air mata. Rasanya berbahagia sekali tatkala anaknya lahir dan mendengar suaranya.
Setelah selesai adzan dan Iqamah. Bayi itu dibersihkan dan di bungkus kain. Kulitnya putih, dan kepalanya berambut sedikit. Dia terlihat cantik sekali.

“Selamat ya, Mbak.. Anak Mbak perempuan” Dokter Anita mengantarkannya ke Ibunya.
Hanna mengucap syukur kepada Tuhannya. Di dalam hati, ia berulang kali membaca hamdalah. Seolah hal ini adalah hal yang paling membahagiakannya.
“Nak,, ini Bunda nak!” Hanna tersenyum sambil melihat anaknya.
Arie mendekat Anak dan istrinya. Dia membawa kotak balok berisi sesuatu.
“Alhamdullillah.. Nurjannah kita telah tiba” sambut Arie melihat anggota baru keluarganya. Arie kemudian, membuka kotak yang dibawanya. Sebuah kalung emas bertuliskan nama “Nurjannah”. Arie mengenakannya pada Nurjannah.
“Iya Mas., Nurjannah kita!” Hanna sambut balik. Hanna tak tahu harus berbicara apalagi setelah melihat anak disampingnya.
“Bunda.., Nurjannah siapa ya namanya” tanya Arie. Seolah tak sabar, Dia ingin segera tahu, apa nama selanjutnya dari anaknya.
“Fatimah bagaimana Yah?” jawab Hanna.
“Fatimah? Nama yang bagus!” Arie menambahkan jawabannya.
Mereka berdua sepakat untuk memberikan nama anaknya itu Fatimah Nurjannah. Nama Fatimah berasal dari nama anak Rasullullah. Mereka berharap dengan segala kebajikan Fatimah hadir pada anaknya. Mereka sangat berharap anaknya menjadi anak yang shalihah.
Arie keluar ruangan. Ujang menunggu di depan ruang bersalin. Dia bertanya-tanya bagaimana keadaan Hanna. Arie dengan gembira dan terlihat bahagia mengucapkan sesuatu.
“Jang, namanya Fatimah Nurjannah! Perempuan” Arie mengatakan kalimat itu dengan wajah berseri-seri.
Ujang memberikan tangannya kepada Arie dan berjabat tangan. Dia mengucapkan selamat. Arie menerima jabatan tangannya itu. Tiada saat yang paling membahagiakan baginya. Arie tersenyum dengan lebar. Di teleponnya keluarganya satu per satu. Hingga merekapun datang ke rumah sakit.
Bersambung
No comments:
Post a Comment