Oleh : Azmi Azhari (AZAZ MENAWAN)
Indonesia dulu dan kini sangat berbeda. Telah banyak lahir inovasi-inovasi baru yang menyebabkan indonesia lebih maju. Penyebabnya adalah sosok ilmuan yang menemukannya. Bidang pertanian memiliki andil tersendiri di dalamnya. Menurut Bapak Ir. Soekarno, saat peresmian Kampus Baranangsiang IPB beberapa dekatahun yang lalu, pertanian adalah soal hidup dan mati. Beliau bisa mengatakan demikian, berarti mempunyai sebab tersendiri. Tanpa pertanian manusia tidak bisa makan, tanpa pertanian manusia tidak dapat bertahan hidup dan tanpa pertanian, manusia tak akan bisa mandiri.
Mahasiswa seharusnya mempunyai tingkat kontribusi yang besar dalam hal ini. Jiwa pemuda-pemudinya yang menggelora dan bersemangat memiliki potensi yang sangat luar biasa. “jika aku dikasih 10 pemuda, maka aku akan guncangkan dunia” begitulah yang dikatakan oleh bung Karno. Esensinya adalah tonggak kehidupan, dan pondasi ada pada jiwa pemuda. Mahasiswa harus dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Tentunya dalam bidang-bidang sendiri yaitu keprofesian. Tempatnya hanya pada himpro.
Himpunan Profesi yang laksana dikenal dengan HIMPRO adalah suatu lembaga mahasiswa yang berfungsi untuk mengembangkan bidang profesi. Tujuan utama anggotanya adalah bagaimana menjadikan organisasi tersebut sebagai wadah aktualisasi diri. Crebs merupakan salah satunya. HIMPRO yang berdiri tanggal 17 Agustus 2005 ini bertujuan sangat mulia yaitu mengembangkan minat bakat, membina kekeluargaan dan mengembangkan gagasan dan usaha yang tentunya dalam koridor kehimproan yaitu biokimia.
Satu-satunya dan pertama di Indonesia adalah julukan yang saat ini diemban oleh himpro ini. Nama crebs sendiri berasal kata singkatan yang diambil dari beberapa kalimat yaitu Community Research and Education in Biochemistry Student. Himpro yang hanya berada di IPB ini, yang berdiri lebih dari 3 tahun, memiliki kepengurusan dan struktur organisasi yang jelas dan di bawah departemen biokimia. Menurut Ageng Wiyatno, ketua HIMPRO Crebs tahun 2008-2009, crebs adalah wahana untuk belajar dan mengajar untuk mengejar kebahagiaan. Dari kalimat tersebut bisa kita ambil maknanya, bahwa crebs adalah tempat untuk berkreasi, berinovasi dan mandiri. Beberapa hari kedepan adalah masa dimana crebs harus dikaderisasikan dan perguliran pengurus yang akan dilaksanakan pada PEMIRA bulan Desember 2009.
Berpikir prespektif adalah hal sangat dibutuhkan dalam kepengurusan Crebs. Mengapa harus seperti itu, Crebs harus bisa menjadikan biokimia IPB dan menjadikan perwakilannya untuk mengembangkan dunia biokimia Indonesia. Dengan tujuan seperti itu, crebs adalah jelas dan tidak asing. Dengan menatap masa depan, crebs harus memiliki targetan-targetan. Pasangan azas menawan memiliki targetan-tergetan yang pasti, beberapa diantaranya adalah 1 prestasi internasional, 2 prestasi nasional, memiliki 10 link perusahaan yang kuat dan masih ada yang lain. Pencapaian target-target tersebut dengan 3 cara yaitu, memiliki softskill membangun jaringan, memiliki softskill mengorganisir dan kemampuan inovasi yang harus dimiliki kepengurusannya. Pencapaian Prestasi dapat dilaksanakan dengan cara mewajibkan setiap pengurus mengikuti minimal 2 kompetisi nasional. Kemungkinan mendapatkan prestasi tersebut adalah besar. Prestasi internasional salah satunya adalah mengikuti konferensi. Untuk mencapai targetan internasional dibutuhkan kemampuan yang tidak mudah. Banyak cara yang harus dilakukan, yaitu dengan membentuk English club. Dengan demikian, pengurus dan anggota memiliki softskill yang bisa ditingkatkan dari taraf sebelumnya. Pencapaian targetan selanjutnya, memiliki 10 link perusahaan. Pencapaianya dengan menghubungi alumni dan mengajukan kerjasama. Dengan penelusuran alumni, pengurus bisa memiliki hubungan dengan “orang dalam” yang kuat. Selain itu, pengurus harus membuat program kerja, dengan bidang kebiokimiawian, yang sesuai dengan program kerja pada instansi yang tertuju. Dengan demikian potensi 10 link itu bisa tercapai. Salah satu himpro yang telah memilikinya adalah himpro gizi. Mereka mempunyai hubungan yang kuat dengan instansi pemerintah seperti Dikti, LIPI dll. Himpro gizi pernah mengajukan proposal pada bulan Agustus, yaitu bulan pembentukan program kerja DIKTI, alhasil Himpro gizi mendapatkan dana 75 juta untuk salah satu programnya.
Masih banyak targetan-targetan lain yang harus tercapai. Aspirasi memegang tingkat yang sudah bisa dikatakan penting. Dengan aspirasi, suatu kepengurusan kelembagaan dapat menumbuhkan suatu image yang baik, pendorong anggotanya untuk berkontribusi dan pembentuk suatu hubungan kekeluargaan yang kuat. Selain aspiratif, suatu kepengurusan harus berinovasi. Sebelum berinovasi, suatu kepungurusan harus ter”mindset” dengan baik. Kunjungan kehimpro lain bisa adalah solusinya. Dengan cermin himpro lain yang sudah maju, maka dengan hal yang menginsprasi, suatu kepengurusan dapat melahirkan inovasi. Teori itu ada dalam budaya Jepang “keizen”, mengambil yang baik dan membuang yang buruk, serta tiru dan modifikasi.
Sebuah himpro harus memiliki budaya tersendiri. Budaya yang berarti kepengurusannya memiliki salah satu ciri khas. Salah satu contohnya adalah bagaimana crebs menjadi pusat informasi mahasiswa biokimia. Pusat informasi seperti, info beasiswa, info perlombaan-perlombaan, dll. Pentingnya budaya memberikan warna tersendiri. Ketika anggotanya (mahasiswa biokimia) bertemu dengan pengurus, ada hal yang berbeda. Pengurus himpro harus lebih tahu dan mengetahui tentang informasi.
Hal yang bisa diambil adalah kita harus menjadikan Crebs menjadi himpro yang mandiri, bermasa depan, berbudaya dan berinovasi. Semuanya bisa terlaksana ketika budaya kehimproan melekat dalam diri kepengurusan. Ada heptagonal point budaya yang harus dimiliki yaitu:
1. Profesional
2. Prespektif dan prestatif
3. Kontributif
4. Peduli
5. Kekeluargaan
6. Mandiri
Dengan demikian, kepengurusan lebih tertata dan dapat melahirkan suatu kesingkronan dan menuju himpro yang lebih baik.
Diolah dari berbagai sumber.
No comments:
Post a Comment